Kami pertama kali bertemu di Lhokseumawe sebagai rekan kerja. Dua insan yang awalnya asing tanpa pernah berpikir untuk melangkah sejauh ini. Sebagaimana bunga-bunga di tepi jalan yang tumbuh begitu saja pada musimnya, perasaan di antara kami hadir tanpa kami sadari sejak kapan adanya. Ia tumbuh begitu saja, disemai oleh waktu dan dipupuk oleh kebersamaan yang kami lalui setiap hari.
Kami pernah mencoba menanam bibit bunga liar di ujung tangga tempat kami biasanya bertemu. Namun yang tumbuh adalah perasaan kami. Kami juga pernah menghitung jumlah anak tangga itu, satu, dua, tiga.. kami berjalan pelan sambil menghitung. Empat, lima, enam, kulihat matanya berbinar bahagia. Tujuh, delapan, sembilan, kami memandang ke atas mencoba menerka sebanyak apa. Sembilan puluh delapan, sembilan puluh sembilan, di tangga ke seratus kami berhenti dan saling memandang. Anak tangga yang kami hitung tinggal sedikit lagi, di ujung anak tangga itu adalah rumahnya. Seratus tujuh puluh tujuh! Di anak tangga terakhir kami menyudahi pertemuan hari itu. Namun kisah kami masih berlanjut.
Suatu sore, kami menghabiskan waktu berjalan bersama. Di kilometer ke 4 dia menunjukkan kebahagiaan sederhana dari masa kecilnya yang belum pernah kusaksikan. Dia berhenti, memungut buah Mahoni kering, lalu menerbangkannya. Buah mahoni kering itu perlahan jatuh bagai baling-baling ke tanah dan mataku jatuh pada matanya. Ia tertawa bahagia dan di hatiku menjadi taman bunga. Aku jatuh cinta.
Setelah hari itu, aku menemukan hobi baru. Hobi memperhatikan dan menanyakan kabarnya. Kemudian aku menanyakan makhluk kecil di dalam diriku, "Apakah perempuan ini yang akan kita bahagiakan?" "Bisakah kita menerima keluh kesahnya, kemarahannya, dan segala yang akan datang darinya?" Kumantapkan hati, lalu kuberanikan mengungkapkan niat untuk melamarnya. Perasaanku berbalas, niatku untuk melamar diterima. Namun perjalanan yang kami lewati tidak semulus kelihatannya, beberapa kali keraguan timbul di hatinya, setiap kali itu juga aku berusaha meyakinkannya. Hingga pada akhirnya 18 Oktober 2025 hari lamaran kami tiba dan berhasil kami lalui.
Kisah pertemuan kami cukup singkat, namun semoga akan menjadi kisah panjang yang bahagia. Terima kasih untuk semua yang mendoakan kami. Terima kasih Abah, Ummi, dan Bunda yang telah membesarkan perempuan yang akan menjadi pasangan hidupku. Terima kasih untuk Ayah dan Ummiku yang telah memberi restu untuk anaknya meminang gadis dari pulau yang jauh dari kampung halaman. Dan terimakasih Tuhan Allah SWT., yang membawa langkahku untuk bertemu dengannya dari pulau Sulawesi ke tanah Serambi Mekkah. Kami mohon doa dan restunya untuk terus menuliskan kisah kami sebagai pasangan suami-istri.